Sate Pak Pong Jogja: Sensasi Makan Sate di Tengah Sawah April 20, 2012
Posted by rizal in Kuliner.Tags: kuliner, sate pak pong, tongseng, travelling
1 comment so far
Dua hari terakhir pekan ini, saya berkesempatan kembali kota Gudeg, Yogyakarta. Urusan tugas kantor mengantar saya ke kota ini, untuk kesekian kalinya sejak pertama kali tugas ke kota ini sekitar tahun 2009.
Selain wisata budaya, wisata kuliner merupakan salah satu hal yang menarik di kota ini. Jogja mempunyai banyak tempat-tempat makan yang menarik, terutama di malam hari. Saya ingat pernah makan sop kaki kambing di depan salah satu SMP di kota jogja yang enak, walaupun jualannya di pinggiran jalan saja. Pernah juga makan angkringan di kota ini, dengan tehnya yang khas menggunakan gula batu.
Sate klathak, begitu orang menyebutnya. Sebuah warung sate terletak di daerah Imogiri Timur (arah jalan menuju makam raja-raja di Imogiri), ke tempat itulah siang itu saya diajak kolega kantor untuk makan siang. Menurut informasi dari teman-teman di jogja, tempat ini sering menjadi persinggahan pejabat-pejabat dari jakarta jika ada kunjungan ke kota jogja.
Sebuah warung sederhana, dengan pemandangan sawah tepat di belakang warung ini. Setelah memesan sate dan tongseng, maka tidak lama datanglah pesanan saya dan teman-teman. Dua buah tusuk sate yang tampak polos (tanpa bumbu kecap) dan semangkuk tongseng dihidangkan oleh penjaga warung. Yang nampak berbeda dengan sate umumnya adalah bahwa tusuknya tidak menggunakan bambu, melainkan menggunakan sebuah batang besi tepatnya jeruji sepeda. Iya, sate itu menggunakan jeruji sepeda sebagai tusukan. Selain itu satenya polosan, tanpa bumbu kecap, dan memang ketika saya coba rasanya hanya asin saja.
Tambang, Migas, UKM: Fokus Ditjen Pajak 2012 Januari 12, 2012
Posted by rizal in Pajak.Tags: migas, suveyor, tambang, Taxation in Indonesia, ukm, usaha kecil dan menengah ukm
1 comment so far
Tahun 2012 target penerimaan perpajakan ditetapkan sebesar 1.032 T. Target penerimaan ini mengalami pertumbuhan 26% dari target penerimaan tahun 2011. Kenaikan target penerimaan pada tahun 2012 ini menjadi tugas yang berat bagi ditjen pajak, mengingat pada tahun 2011 target penerimaan tercapai 99,3% .
Dari informasi yang disampaikan oleh ditjen pajak melalui pers, terlihat beberapa kebijakan yang akan dilakukan oleh ditjen pajak untuk mencapai target 2012. Sektor tambang dan migas, serta usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi fokus yang dikejar oleh ditjen pajak.
Tambang dan migas, seperti tulisan saya terdahulu menjadi salah satu potensi yang masih bisa dimaksimalkan oleh ditjen pajak. Salah satu langkah yang dilakukan adalah rencana untuk membentuk Kantor Pelayanan Pajak yang secara khusus akan menangani tambang, dan migas. KPP khusus ini rencananya akan mulai dioperasionalkan mulai April 2012 (sumber). Dan khusus, untuk memperoleh data yang yang lebih akurat pajak akan bekerja sama dengan surveyor untuk memperoleh informasi mengenai hasil dari migas dan pertambangan ini (sumber). Diharapkan dengan adanya KPP khusus dan data dari pihak suveyor independen potensi perpajakan migas dapat lebih dioptimalkan lagi.
Sektor UKM juga menjadi fokus ditjen pajak. Jumlah UKM di Indonesia jutaan, dengan potensi ekonomi yang sangat besar. Namun demikian, dilihat dari data penerimaan perpajakan nasional kontribusi sektor UKM ini dirasa belum optimal, baik dari segi penerimaan PPN maupun PPh.
Penggalian potensi perpajakan dari UKM dimulai dengan program sensus nasional dan juga penyiapan paket peraturan pemerintah tentang perlakuan perpajakan bagi UKM. Tentunya UKM yang dimaksud adalah usaha-usaha kecil dan menengah yang sebenarnya mereka mempunyai penghasilan besar namun belum membayar pajak. Jadi penghasilan mereka tax free.
Last, kita lihat bagaimana implementasi dari strategi ditjen pajak di tahun 2012 ini. Apakah target tahun 2012 ini akan tercapai atau tidak?….
Ditjen Pajak Butuh Fungsional Peneliti Januari 6, 2012
Posted by rizal in opini pribadi, Pajak.Tags: ditjen pajak, ekonomi, ekonomi makro indonesia, investasi, pertumbuhan ekonomi indonesia, riset
2 comments
Ditjen Pajak merupakan salah satu institusi yang mempunyai peranan cukup vital di Indonesia. Sekitar 70% Anggaran dan Pendapatan Negara (APBN) dikumpulkan oleh instansi ini. Kemampuan ditjen pajak dalam menghimpun penerimaan ini akan sangat berpengaruh terhadap APBN negara.
Namun demikian, 2 tahun berturut-turut realisasi penerimaan perpajakan tidak mampu dicapai oleh ditjen pajak, yaitu pada tahun 2010 dan 2011. Kalau dilihat secara kasat mata, hal ini agak sedikit kontras dengan kondisi perekonomian Indonesia pada tahun 2011 yang menunjukkan pertumbuhan positif. Tingkat konsumsi dalam negeri menjadi salah satu penggerak ekonomi makro Indonesia pada tahun 2011. Terbukti ketika kondisi ekonomi luar negeri (Eropa dan Amerika) mengalami gejolak, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2011 tetap tumbuh positif. Tidak mengherankan kemudian lembaga rating dunia Standard and Poors menaikkan menaikkan long-term foreign currency rating Indonesia menjadi BB+ sekaligus menetapkan outlook positif dari sebelumnya BB. Sedangkan sovereign rating RI untuk long-term local currency tidak berubah, tetap di tingkat BB+ dengan outlook positif. Peningkatan rating ini, membawa sovereign rating Indonesia berdasarkan penilaian S&P menjadi 1 notch lagi menuju investment grade. (Sumber)

