Sekilas tentang Brevet Pajak


Beberapa kali pengalaman saya mengajar brevet, ada beberapa hal yang ingin saya tuliskan disini untuk berbagi dengan pembaca sekalian. Kesan saya pertama kali melihat para peserta kelas brevet adalah satu kata yaitu salut. Saya sungguh salut dengan mereka yang mengikuti kursus brevet. Hal yang saya salutkan dari mereka adalah kemauan kerasnya untuk belajar pajak sehingga mereka berani mengorbankan waktu libur mereka dan juta mengurangi waktu untuk keluarga mereka demi belajar pajak.

Beberapa kali mengajar brevet, saya menjumpai peserta brevet bervariasi, mulai dari tingkat pendidikan mereka, posisi atau jabatan mereka di kantor dan juga usia mereka. Sebagian besar dari peserta brevet yang selama ini saya jumpai adalah karyawan entry level atau fresh graduate yang baru masuk bekerja. Umumnya usia mereka masih muda antara 20an sampai dengan 30an. Ada juga peserta brevet dari posisi middle manager di perusahaan, usianya biasanya di atas 40 tahun.

Variasi peserta ini mempunyai motivasi yang berbeda dalam mengambil kelas brevet. Para fresh graduate biasanya mengambil kelas brevet untuk menambah portofolio mereka ketika melamar pekerjaan. Adanya sertifikat pernah mengikuti brevet pajak mungkin akan menambah daya tarik mereka di hadapan perusahaan tempat mereka melamar pekerjaan. Peserta brevet dari karyawan entry level biasanya mengambil kelas brevet dengan alasan mereka perlu belajar pajak untuk menunjang pekerjaan mereka yang sebagian besar di bidang akunting dan pajak. Mereka umumnya dulu adalah alumni universitas dari jurusan D3 ataupun S1 di bidang ekonomi yang ingin menguatkan lagi ilmu pajak mereka. Selain itu mereka juga mempunyai motivasi dengan mengikuti brevet maka ketika ia sudah lebih paham tentang pajak mereka ingin mencari pekerjaan lain yang lebih menjajikan dibandingkan pekerjaan mereka sekarang. Motivasi yang lebih menjanjikan dan lebih kuat dimiliki oleh para middle manager. Mereka umumnya ingin memahami pajak dengan harapan mereka paham dasar-dasar pajak dan keuangan sehingga mereka bisa mengontrol pekerjaan bawahan mereka.

Variasi peserta itu juga ternyata membawa dampak terhadap cara belajar dan cara mengajar peserta brevet. Para peserta brevet yang masih fresh graduate dan entry level cenderung ingin memahami pajak dari sisi teknisnya. Mereka sangat berambisi untuk bisa mengisi SPT (surat pemberitahuan). Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan pun sebagian besar sangat teknis. Hal ini wajar mengingat lingkup pekerjaan mereka adalah di sisi teknisnya. Peserta brevet dari posisi middle manager mempunyai karakter belajar sendiri. Umumnya mereka tidak ingin mendalami secara teknis mengenai materi perpajakan. Mereka biasanya cenderung ingin mempelajari filosofi perpajakan dan pengaruhnya secara makro dalam proses bisnis mereka.

Ini adalah kesan saya selama beberapa kali mengajar kelas brevet. Setidaknya dengan gambaran seperti ini pengajar brevet tentu perlu menyesuaikan gaya mengajarnya. Kapan saat harus mengajar dengan sangat teknis dan kapan harus menyampaikan inti dan filosofinya saja. Memang target dari brevet pajak adalah diharapkan peserta bisa menguasai materi pajak secara komprehensif. Namun dengan waktu kelas brevet yang terbatas, ada prioritas yang harus dikejar dari sisi pengajar. Kalau kita kaji lebih jauh ternyata motivasi peserta brevet berbeda-beda sehingga pertimbangan yang wise diperlukan bagi seorang pengajar. Titik akhirnya adalah bagaimana semua peserta brevet bisa mendapatkan apa yang menjadi motivasi mereka mengikuti brevet.

Bagaimana pendapat anda??

13 thoughts on “Sekilas tentang Brevet Pajak

  1. sertifikat memang manjur untuk menambah daya tarik calaon pemkai tenaga kerja. saya pernah mendengar siaran radio yang menyatakan faktor utama yang diperhatkan calon pemakai tenaga kerja adalah “sikap dan keahian” jadi salah besar kalu kita hanya mengandakan ijasah pendidikan formal saja..:) salam hangat joni
    salam knal juga mas..:)

  2. slmt siang
    saya mau tanya, apa ada perbedaan antara brevet pajak A dan B? Dan sebagai seorang dr jurusan ilmu ekonomi, mana kah yg lebih dapat menunjang kompetensi saya? trims sebelumnya

  3. Sebenarnya untuk apa sebuah sertifikat brevet itu dlm dunia pekerjaan?
    misalnya seorang fresh graduate dibandingkan dengan seorang karyawan yg bekerja di perusahaan??
    dan apa perbedaan dari brevet dan konsultan??
    karena saya mengira kalo seorang yg punya brevet pastinya cukup memiliki ilmu pajak sehingga mampu mmberikan saran/seperti berbagi pengetahuan pajaknya…
    makasih atas jawabannya :)

  4. mau tanya donk,, bedanya brvet A B dengan brevet C apa ya? kalau mau ambil brevet harus ambil keduanya? jadi 2x ambil brevet? ga langsng dapet semua materi nya ya? thx

    1. Brevet A mengenai PPh Orang pribadi dan Brevet B materi yang dipelajari adalah PPh Badan. Biasanya brevet AB menjadi satu paket. Jika Saudara ingin megambil Brevet C harus lulus Brevet AB terlebih dahulu, semoga membantu

  5. Alumni brevet – IAI mulai brevet A&B serta lanjut ke C, LUAR BIASAAAAA……. terasa nikmat hasil yang saya dapatkan sekarang. Ilmu akan meninggikan derajat manusia disisi Tuhan dan umat-Nya.

  6. Tanya: apakah setiap penyelenggara brevet harus mendapat ijin dulu dari dirjen pajak ataukah cukup ijin kursus biasa saja… Biar ga salah pilih lembaga nih….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s