Susahnya Jadi Orang Pajak


Kalau ada tempat kerja yang diidam-idamkan oleh anak muda pada masa dulu, maka mungkin pajak menjadi salah satu opsinya. Begitu juga bagi para orang tua, menjadi suatu kebanggaan tersendiri apabila anaknya bekerja di keuangan, apalagi pajak.

Stigma bekerja di pajak banyak duit memang menyilaukan orang. Fakta di lapangan lah yang berbicara. Ketika seseorang melihat sosok seorang yang bekerja di pajak, maka yang ada di hadapan mata adalah sejumlah aset dan harta yang melimpah.

Itu dulu… Tidak bisa dipungkiri memang, fakta bahwa dulu praktik tidak sehat masih ada pada instansi pajak. Walaupun instansi yang lain juga begitu. Namun tetap saja pajak menjadi salah satu sorotan utama. Bahkan ketika saya kuliah dulu ada salah satu artikel di harian berbahasa inggris yang memuat berita heboh mengenai seorang pegawai pajak yang sudah bisa membeli mobil BMW seri 5 terbaru pada usia yang masih muda.

Pertanyaannya sekarang adalah, masih relevankah itu? Apakah pajak masih begitu? Bagi sebagian orang yang mempunyai pandangan pesimistis tentu tidak akan pernah mau menerima kenyataan bahwa pajak sekarang berubah 180 derajat. Walaupun dalam prakteknya masih ada satu dua oknum yang merusak citra perbaikan itu. Tapi apabila melihat ke dalam internalnya, sudah banyak perubahan yang ada di DJP ini.

Memang bukan pekerjaan munumbuhkan kepercayaan masyarakat untuk membayar pajak. Rasa trustworthy ini yang belum dimiliki masyarakat kepada DJP. Rasa tidak percaya bahwa uang pajak yang mereka bayar akan masuk kas negara, tapi malah masuk kantong pegawai pajak masih menghantui masyarakat. Padahal mereka membayar pajaknya ke bank yang langsung masuk kas negara, bukan bayar ke pegawai DJP. Ya, mungkin itu efek jaman dulu yang masih terasa hingga sekarang.

Menjadi tugas berat bagi institusi perpajakan dan para pegawainya juga untuk menciptakan rasa kepercayaan dari masyarakat. Trustworthiness inilah kata kunci yang harus dipegang oleh DJP apabila ingin meningkatkan tax ratio dan tax complience.

Iklan-iklan yang ada di DJP sekarang menekankan masalah fungsi pajak. Ada iklan yang dibintangi Dedy Mizwar yang menggambarkan hasil pajak untuk membiayai pendidikan dan kesehatan. Iklan itu sudah cukup bagus untuk memberi penjelasan kepada masyarakat mengenai pentingnya membayar pajak. Namun menurut saya, saya pikir di era informasi ini masyarakat sudah cukup tahu apa fungsi dari pajak itu. Untuk apa uang dari pajak itu. Perusahaan-perusahaan juga sudah tahu. Menurut saya akan lebih baik lagi kalau ada iklan yang mampu menumbuhkan rasa kepercayaan masyarakat akan instansi pajak ini.

Mudah-mudahan sih ke depannya masyarakat sudah tidak antipati lagi terhadap pajak. Kasihan juga pegawainya. Pegawai pajak kalau kaya dibilangnya: panteeeeeeeessss.. orang pajak ya kaya. Pegawai pajaknya kalau miskin dibilang sok sederhana… dan lebih parah lagi dibilang: Goblokkkk… kerja di pajak kok miskin…. Susahnya jadi orang pajak

Tulisan ini adalah wujud rasa syukur saya atas perubahan di Kantor Pajak. Perubahan ini tentu belum mencerminkan hasil reformasi secara menyeluruh. Tapi serpihan peristiwa ini bagi saya adalah titik penting bagi perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. 

http://berbual.com/bisnis-dan-manajemen/reformasi-di-kantor-pajak/

Saya sangat berharap, agar pelayanan dari Kantor pajak dapat terus ditingkatkan, agar para pembayar pajak tidak segan untuk bertanya dan berdiskusi dengan staf kantor pajak, tanpa merasa dihakimi. Memang sudah seharusnya terjadi perubahan paradigma pada Kantor Pajak.

http://edratna.wordpress.com/2008/07/14/terimakasih-kpp-pratama-jakarta-selatan/

Banyak yang bertanya mengapa saya tidak menggunakan fasilitas online ataudrop box di berbagai tempat yang mudah dijangkau, saya biasanya hanya tersenyum dan mengatakan saya senang dengan sensasi yang saya rasakan setelah keluar dari kantor pajak sebagai orang bijak hahahaaaaa…. Tidak ada orang yang percaya dengan jawaban saya tapi memang demikian lah yang saya rasakan. Ya, siapa tahu orang-orang seperti Gayus ingin ketularan bijak seperti saya, ya gak?

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/03/22/pengalaman-menyampaikan-spt-tahunan-pribadi-ke-kantor-pajak/

Saat itu pula terfikir untuk melakukan pemindahan Kantor Pajak sehubungan dengan kepindahan rumah saya ke Bogor. Setelah mengisi formulir yang disediakan, dan kurang dari 5 menit saya telah mendapatkan surat pindah pajak saya.

http://suarapembaca.detik.com/read/2009/04/01/113235/1108329/283/terima-kasih-atas-pelayanan-pajak-pratama-kelapa-gading

One thought on “Susahnya Jadi Orang Pajak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s