Surat Untuk Adikku


“Anti Korupsi BlogPost Competition”

17 Mei 2005

Dik gimana kabar kuliahmu di jurangmangu sana? Tidak terasa sudah tiga bulan kau sudah masuk kuliah. Mudah-mudahan engkau merasa betah disana.

Mas tahu bahwa kau sebenarnya tidak ingin kuliah disana. Engkau ingin melanjutkan kuliah di fakultas kedokteran setelah lulus sma. Namun apa daya dik, bapak ibu kita yang petani biasa tidak punya cukup biaya kuliahmu. Gaji mas sendiri sebagai PNS yang masih baru setahun bekerja tidaklah besar. Hanya cukup untuk mengirimi uang makan dan kostmu tiap bulan. Maafkan apabila ternyata engkau hanya bisa kuliah di kampus kedinasan yang gratis mengikuti jejak mas.

Mas sebenarnya ingin sekali kau menjadi dokter. Sejak kecil kau ketika ditanya orang ingin jadi apa nanti kalau besar? Aku ingin menjadi dokter. Begitu jawabmu.  Mas sebenarnya sangat ingin kau masuk ke fakultas kedokteran. Tapi mana cukup gaji mas yang hanya pegawai negeri sipil golongan II ini. Gaji PNS tidaklah cukup besar untuk membayar uang kuliah di fakultas kedokteran yang hanya bisa dijangkau oleh orang-orang yang punya uang.

Dik, mas sebenarnya bisa membiayai kuliahmu di fakultas kedokteran. Mas sebenarnya bisa dapat uang banyak di kantor seperti teman-teman mas.  Seperti si Dimas, teman mas satu angkatan mas dulu ketika di kampus. Kemarin baru saja ia membeli mobil baru yang keduanya.

Kau tahu dik, dia itu sama seperti mas. Dia dulu juga dari desa, sama-sama tidak punya biaya untuk kuliah. Makanya dia kuliah di kampus kedinasan seperti mas. Selepas kuliah dia kebetulan bekerja di kantor pemerintah yang bertugas untuk mengumpulkan penerimaan Negara, satu kantor dengan mas. Kami berdua ditempatkan di seksi teknis, seksi “paling basah” kata orang-orang. Setahun bekerja membuat perbedaan yang cukup antara mas dan dia. Dia cepat sekali menjadi “jagoan” di kantor. Sudah berapa banyak rupiah yang ia kantongi dari hasil dia “nego” dengan perusahaan ketika memeriksa pajak perusahaan.

Mas merasa tertekan di kantor dik. Mas menjadi orang yang asing. Mas malu kalau ditanya mas bekerja dimana. Mas hanya menjawab bekerja di swasta. Mas malu untuk menjawab mas bekerja dimana.

Mas bukan jagoan yang bisa nego dengan perusahaan seperti Dimas. Mas dikucilkan karena tidak menerima “uang lelah” yang dibagikan setiap hari jumat. Mas tidak mau menerima dik. Mas tahu darimana uang lelah itu dikumpulkan. Mas lebih baik menolah daripada ada rezeki yang tidak halal masuk ke perut mas. Mas  tidak mau engkau kuliah dari uang seperti itu. Seperti yang selalu ibu ingatkan pada kita berdua, biarlah harta kita sedikit yang penting berkah.

Sudah dulu ya dik, cukup sekian surat dari mas. Tetap rajin belajar dan berdoa. Jangan lupa uang bulanannya dihemat ya biar cukup.

Salam sayang dari mas.

###

20 Desember 2007

Gimana kabarnya adikku sayang. Mas semangat sekali ketika menulis surat ini. Tahukah engkau dik, sekarang mas merasa merdeka, tidak tertekan lagi di kantor. Mas akhirnya merasakan suasana kerja yang mas harap-harapkan dari dulu.

Dua bulan kemarin instansi mas resmi menerapkan modernisasi. Ya modernisasi. Kantor mas sekarang sudah modern. Kantor mas sudah direformasi dik. Kantor mas sudah berubah 180 derajat. Mas ingin sekali menceritakannya padamu tentang modernisasi di kantor mas.

Disiplin waktu. Iya dik, sekarang di kantor mas sangat disiplin terhadap waktu. Kau tahu dik, sekarang di kantor mas harus absen dengan mesin finger print. Ya finger print, tidak lagi tanda tangan seperti zaman dulu.  Sekarang teman-teman mas tidak bisa lagi datang seenaknya. Tidak ada lagi pegawai yang nitip absen, trus ngeloyor pergi entah kemana. Pegawai yang datang lewat dari jam 07.30 sudah dihitung telat, dan konsekuensinya penghasilan dipotong. Pulang juga begitu dik, tidak bisa pulang seenaknya. Setelah absen jam 5 sore baru bisa pulang. Kau tahu dik, sejak mesin dipakai ruangan kantor selalu penuh dengan pegawai. Berbeda dengan zaman dulu yang ruangan sering sepi karena pegawai pergi entah dengan alasan apa. Ya, karena mesin absen tidak bisa dibohongi layaknya tanda tangan.

Ada pengawas intern. Sekarang di kantor mas sudah tidak bisa lagi kongkalikong lagi dengan para pengusaha dik. Sekarang tidak semua pegawai bisa memeriksa perusahaan. Hanya pegawai tertentu. Selain itu, ada lembaga pengawas intern di kantor mas. Pegawai kantor mas sekarang tidak berani lagi karena ada pengawas yang siap menjatuhkan hukuman disiplin bagi pegawai yang terbukti melakukan nego dengan perusahaan untuk memanipulasi pajak. Bahkan masyarakat yang mengetahui adanya kongkalikong antara pengusaha dengan pegawai di kantor mas bisa melaporkan ke lembaga pengawas intern. Mereka tidak perlu takut melapor karena kerahasiaan mereka dilindungi. Keren kan dik kantor mas sekarang.

Kode etik. Sebagai mahasiswa tentu kamu sangat paham kode etik itu apa. Ya, setelah sekian tahun instansi mas ada di republic ini, baru sekarang instansi ini memiliki kode etik. Pegawai di instansi mas, termasuk mas sendiri sekarang diikat dengan kode etik. Kode etik yang memuat kewajiban dan larangan pegawai. Di dalam kode etik, pegawai di instansi mas dilarang untuk menerima segala pemberian dalam bentuk apapun, baik langsung maupun tidak langsung yang patut diduga memiliki kewajiban yang berkaitan dengan jabatannya atau pekerjaannya.

Pelayanan gratis. Adanya kode etik tadi membuat semua pelayanan yang diberikan kantor mas sekarang gratis. Tidak ada lagi pungutan liar di kantor. tidak ada lagi “nego” antara pegawai dengan masyarakat. Mas bangga sekali dengan ini. Mungkin instansi mas termasuk instansi yang paling awal dalam hal ini.

Hukuman disiplin. Tidak boleh lagi seluruh pegawai di instansi mas menerima apapun dari pihak-pihak yang berkaitan dengan pekerjaan mas. Tidak ada lagi istilah “uang pelicin”, “uang lelah”, “uang konsultasi”, ataupun pungutan-pungutan lain. Dengan kode etik ini pegawai di instansi mas tidak bisa berbuat seenaknya. Ada kewajiban yang harus dilaksanakan dan ada larangan yang tidak boleh dilanggar. Pelanggaran terhadap larangan tentu ada sanksi yang tegas dan jelas.

Remunerasi. Hmm… kau mungkin awam mendengarnya dik. Percayalah dik.. kau akan sangat senang sekali mendengarnya. Dengan remunerasi ini ini mungkin uang kiriman mas untukmu tidak mepet lagi. Hehe…

Seperti yang telah mas ceritakan di awal, sekarang kantor mas benar-benar berubah. Semua pelayanan di kantor mas sudah professional dan tidak ada pungutan-pungutan liar. Ada sanksi yang tegas bagi mereka yang melanggar. Sebagai konsekuensi dari itu semua dik, semua pegawai di instansi mas sekarang menerima remunerasi.

Remunerasi ini tambahan penghasilan bagi pegawai di instansi yang telah modern seperti kantor mas. Remunerasi ini berupa tambahan tunjangan selain gaji pokok. Dengan remunerasi ini diharapkan tidak ada lagi upaya korupsi di kantor mas karena terdorong oleh kebutuhan. Semua pegawai diberikan imbalan yang pantas sesuai dengan peringkat jabatan dan tugasnya.

Dengan remunerasi ini mas sekarang bisa menambah kiriman bulananmu. Mas juga bisa menambah kiriman untuk bapak ibu kita di kampong. Dan satu lagi mungkin mas mulai bisa nyicil motor untuk berangkat kantor. Hehe…  Alhamdulillah.

Oiya dik, masih ingatkah kau pada Dimas, teman mas yang tempo hari mas ceritakan. Berita terakhir yang mas dengar, dia kemarin dipindahkan ke kantor di luar jawa.

Cukup sekian berita dari mas dik. Mas berharap engkau semakin rajin belajar setelah membaca surat ini. Ketika nanti kau masuk telah lulus dan masuk ke instansi mas, suasana kerja akan berbeda dengan ketika saat mas masuk kantor. Kau nanti  tidak perlu malu lagi ketika ditanya bekerja dimana. Kau bisa mengatakan dengan kepala tegak, “Aku bekerja di Departemen Keuangan”. Kau akan sangat bangga karena ternyata korupsi di birokrasi yang sedemikian parah itu ternyata bisa diberantas, dan itu di birokrasi kita.

Salam sayang dari mas.

(N/B uang bulananmu bulan depan akan bertambah).

ditulis dalam rangka ikut Anti Korupsi Blogpost Competition http://www.ceritainspirasi.net

11 thoughts on “Surat Untuk Adikku

  1. mantaap.. ^^ artikel ini bisa menjadi gambaran bagaimana birokrasi mulai diperbaiki tahap demi tahap.. ^^ salut juga untuk idealisme mas yg tidak ikut-ikutan dengan dimas..
    btw, makasih untuk partisipasinya yaa… salam..

  2. maaf ikut baca juga, bagus tetep dalam pendirian yang baik , ini generasi pemuda yang bisa diandalkan untuk bangsa,tidak makan sesuatu yang haram jangan gr ya……….., pak sby bener-bener mengerti keadaan,akhirnya dengan remonerasi itu tidak akan ada yang namanya korps itu.

  3. @ Prof helga.. Thanks.. mudah-mudahan tulisan kecil ini bisa memberi gambaran bahwa korupsi itu masih bisa diminimalisasi asal ada tekad dan usaha yg keras.

  4. Salut untuk mas rizal, semoga Tuhan YME selalu membuka mata hati anda dan menjaga anda dari perbuatan mengambil yang bukan hak anda. Sayang kasus Gayus dan oknum2 pegawai depkeu sangat menurunkan citra PNS padahal renumerasi telah diterapkan jauh lebih dulu di Depkeu dari instansi lain, sementara banyak PNS teknis (non keuangan) yang bekerja penuh dedikasi yang walaupun belum pernah menikmati renumerasi menjadi ikut buruk citranya.

  5. Mantab pak Ical, semoga aparat birokrasi bisa berubah untuk benar-benar menjadi pelayan masyarakat.
    Izin ngelink blognya, untuk pembaca blog saya.😀
    Berikut pengalaman saya membuat npwp sendiri http://wp.me/pnFGq-vJ
    Thanks…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s